Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Engklek/Ingkling, Permainan Tradisional Yang Mulai Punah




Di tengah-tengah teknologi yang semakin maju dan berkembang, permainan tradisionalpun semakin memudar. Kini sudah sangat jarang sekali anak-anak memainkan permainan tradisional yang sudah seharusnya di lestarikan agar tidak hanya menjadi cerita saja. Permainan tradisional kini sudah tergeser oleh permainan-permainan modern yang semakin banyak dan lebih menarik di mata anak-anak. Padahal Indonesia sangat kaya akan permainan tradisionalnya, salah satunya adalah engklek.

Apa itu engklek?
Engklek adalah suatu permainan tradisional lompat-lompatan pada bidang datar yang telah diberi garis pola kotak-kotak, kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak satu ke kotak berikutnya. Sebutan engklek sendiri berasal dari bahasa Jawa, dan di beberapa daerah namanya juga bermacam-macam seperti téklék, ingkling, sundamanda / sundah-mandah, jlong jling, lempeng, dampu, dan lain-lain tergantung daerahnya. Biasanya permainan ini dimainkan oleh anak-anak perempuan, namun tak jarang juga anak laki-lakipun turut serta bermain. Mereka biasa memainkannya di pekarangan rumah, kebun, atau di tanah kosong

Sejarahnya?

Untuk sementara ini ada dua versi tentang sejarah awal mula permainan engklek.

Versi Pertama
Terdapat dugaan bahwa nama permainan ini berasal dari "
zondag-maandag" yang berasal dari Belanda dan menyebar ke nusantara pada zaman kolonial. (sumber: wikipedia.org)
Versi Kedua

Menurut Dr. Smpuck Hur Gronje, permainan ini berasal dari Hindustan. (sumber: aisyahinsani.wordpress.com)

Cara Mainnya?

Cara bermain engklek cukup sederhana:
Macam-macam Arena Engklek
  1. Para pemain harus melompat dengan menggunakan satu kaki di setiap kotak-kotak / petak-petak yang telah digambarkan sebelumnya di tanah.
  2. Untuk dapat bermain, setiap anak harus mempunyaigacuk yang biasanya berupa pecahan genting / kreweng, keramik lantai, ataupun batu yang datar.
  3. Gacuk dilempar ke salah satu petak yang tergambar di tanah, petak dengan gacuk yang sudah berada diatasnya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada.
  4. Pemain tidak diperbolehkan untuk melemparkan gacuk  hingga melebihi kotak  atau petak yang telah disediakan. Jika ada pemain yang melakukan kesalahan tersebut maka pemain tersebut akan dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya.
  5. Pemain yang menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu melemparkan gacuk dengan cara membelakangi engkleknya, jika gacuk jatuh tepat pada salah satu petak maka petak tersebut akan menjadi daerah kekuasaan pemain. Kemudian pada petak tersebut, pemilik sawah boleh menginjak petak dengan dua kaki, sedangkan pemain lain tidak boleh menginjak petak tersebut selama permainan. Pemain yang memiliki sawah paling banyak adalah pemenangnya.

Manfaatnya?
Manfaat yang diperoleh dari permainan engklek ini antara lain adalah: 
  1. Kemampuan fisik menjadi kuat karena dalam permainan engklek di haruskan untuk melompat – lompat. 
  2. Mengasah kemampuan bersosialisasi dengan orang lain dan mengajarkan kebersamaan.
  3. Dapat menaati aturan – aturan permainan yang telah disepakati bersama.
  4. Mengembangkan kecerdasan logika. Permainan engklek melatih untuk berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya
  5. Dapat menjadi lebih kreatif. Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan.
Berminat untuk mencobanya? (Kenapa tidak?)

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai bangsa Indonesia untuk terus menjaga dan melestarikan budaya bangsa kita sendiri.

JIKA BUKAN KITA LALU SIAPA LAGI ?

Senin, 10 September 2012

Permainan Tradisional VS Game Masa Kini


Bagi anda yang lahir di awal era 90-an pasti pernah memainkan atau setidaknya mendengar permainan tradisional seperti Engklek, Gobak Sodor, Patek Lele(benthik), Jek-jek'an, Paksekong, dan lain sebagainya. Di zaman tersebut setiap sore pasti anak-anak mulai berkumpul di tanah kosong, lapangan, ataupun di tempat-tempat yang di rasa enak untuk memainkan permainan-permainan tersebut. Namun hanya dalam waktu singkat, hanya berselang 10 tahun-an saja permainan itu mulai punah. Kini hampir semua anak-anak yang usianya di bawah 10 tahun ketika ditanyai tentang permainan-permainan tersebut pasti akan menjawab tidak tahu atau belum pernah mendengarnya. Permainan yang dulu sangat akrab di kehidupan anak-anak tersebut kini mulai tergantikan oleh permainan-permainan modern seperti PS(Play Station), Nintendo, Sega, dan game-game on line di internet.

Point Blank Lover's

Gamers Sejati ( Serius Banget Kayaknya... -_-" )

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan permainan-permainan tradisional tersebut bisa punah? Ada beberapa faktor yang menyebabkan hilangnya permainan asli bangsa kita tersebut.

Diantaranya:
  1. Masuknya teknologi-teknologi canggih ke kehidupan anak-anak. yang seharusnya belum saatnya untuk menggunakan teknologi canggih tersebut.
  2. Kurangnya kesadaran dari para orang tua bahwa permainan seperti itu cenderung akan mempengaruhi perkembangan kehidupan anak-anak untuk mencari game yang lebih seru lagi yang pada akhirnya mereka bakal menemukan game-game yang lebih ekstrim.
  3. Kurangnya pengenalan tentang permainan tradisional kepada anak-anak.
  4. Kurangnya minat anak-anak terhadap permainan tradisional.
Padahal permainan-permainan tradisional tersebut adalah hasil karya asli nenek moyang kita sendiri. Budaya yang sepantasnya kita jaga dan kita banggakan.

Salah Satu Permainan Tradisional : "Gobak Sodor"


Jika bukan kita yang menjaganya lalu siapa lagi? Apa harus di klaim oleh negara lain dulu baru kita jaga?
Mari kita jaga budaya yang juga merupakan bagian sejarah dari identitas bangsa kita, bangsa Indonesia.

Selasa, 04 Oktober 2011

Cembengan

 Masyarakat di sekitar Pabrik Gula Madukismo (disingkat PG Madukismo) tentu tidak asing lagi dengan perayaan Cembengan, yaitu berbagai macam agenda kegiatan dengan puncak acaranya yakni Upacara Kirab Manten Tebu yang diarak dari depan Gedung Maducandya mengelilingi komplek pabrik. Upacara ini dimaksudkan untuk meminta keselamatan dan hasil gula yang baik. Upacara Cembengan ini biasanya dilaksanakan pada bulan April dan dijadikan sebagai tanda dimulainya musim giling-suling. Selain Ritual Tebu Manten, terdapat juga upacara penghormatan terhadap pabrik gula yang berupa prosesi Ruwatan Mesin Pabrik, Slametan Giling, pagelaran wayang kulit dan pasar rakyat. Acara ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun semenjak PG Madukismo diresmikan Presiden Sukarno pada tahun 1958. 

Sejarah Cembengan 
Tradisi Cembengan sebenarnya merupakan tradisi warga Tionghoa, yaitu tradisi Cing Bing. Cing Bing merupakan tradisi ziarah yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa ke makam leluhur mereka sebelum melaksanakan karya besar. Tradisi Cing Bing ini biasanya dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang bekerja di PG Madukismo. Perkembangan kemudian bukan hanya warga Tionghoa yang melakukan tradisi ini, masyarakat lokal pun turut andil di dalamnya. Masyarakat lokal menyebut tradisi ini dengan Cing Bing-an, yang kemudian populer dengan istilah Cembengan, karena kata Cing Bing-an sulit dilafalkan oleh orang Jawa.

Prosesi Ritual Tebu Manten  
Tebu Manten
Prosesi Tebu Manten ialah prosesi dimana diadakannya ritual pernikahan 9 pasang tebu di komplek Pabrik Gula Madukismo. Sebelum pernikahan berlangsung, pasangan pengantin tebu diarak mengelilingi kompleks pabrik PG Madukismo. Tebu tersebut juga diberi nama menurut jenis kelamin masing-masing. Penamaan sepasang pengantin tebu ini berbeda setiap tahunnya, tergantung hari pelaksanaan Kirab Manten Tebu ini dilaksanakan. Sebut saja misalnya pasangan pengantin tebu yang bernama Kyai Tumpak dan Nyai Pon. Artinya, pasangan pengantin tebu ini menikah pada hari Pon, salah satu nama hari dalam penanggalan Jawa. Kyai Tumpak merupakan simbol tebu berjenis kelamin laki-laki, sedangkan Nyai Pon adalah simbol tebu berjenis kelamin perempuan.
Menurut berbagai sumber, menikahkan sepasang tebu mengandung makna bahwa pasangan tersebut akan membentuk keluarga yang damai dan sejahtera. Makna yang lebih jauh perkawinan tersebut adalah bentuk kerja sama yang baik antara perusahaan dan para petani tebu.

suasana kirab tebu manten
Tebu yang dikirab berjumlah sembilan batang dengan panjang sekitar empat meter setiap jenis kelamin. Tiap-tiap pasangan diikat menjadi satu menurut jenisnya. Tebu yang menjadi simbol laki-laki berwarna hitam, sedangkan yang menjadi simbol perempuan berwarna kuning. Jenis tebu yang dijadikan pengantin ini berasal dari wilayah perkebunan yang berbeda.
  Pasangan pengantin tebu ini diarak menggunakan kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda. Arak-arakan tersebut menempuh rute sepanjang kurang lebih 1 hingga 3 kilometer. Barisan paling depan biasanya adalah kelompok marching band dari beberapa sekolah di sekitar PG Madukismo, kelompok kesenian seperti kuda lumping, dan para prajurit Keraton Yogyakarta. Empat sosok punakawan, yaitu Semar, Petruk, Bagong, dan Gareng mengapit di sisi kanan dan kiri kereta yang membawa pengantin tebu. Barisan di belakangnya adalah para petani tebu dan karyawan yang ditunjuk. Sebelum mencapai lokasi penggilingan, pasangan tebu itu akan dinikahkan di masjid yang berada di lingkungan PG Madukismo.
Setelah para petani menyerahkan pengantin tebu secara simbolis kepada pihak pabrik, acara dilanjutkan dengan doa bersama untuk memohon keselamatan. Sepasang Manten Tebu diletakkan di mesin penggiling. Pasangan inilah yang akan digiling pertama kali ketika proses penggilingan tebu dilakukan. Di sebelah mesin berbagai jenis sesajen digelar berjajar-jajar. Sesajen tersebut berupa dua kepala sapi yang dikubur dekat mesin penggiling, serta tumpeng, ingkung (sekarang diganti dengan ayam bakar), dan buah-buahan sebanyak 40 (empat puluh) buah. Jumlah ini melambangkan jumlah unit kerja yang ada di PG Madukismo.

aneka sesaji dari masing-masing unit kerja
kepala lembu yang bakal di tanam
Selain ritual doa bersama mengarak pasangan pengantin tebu, dalam rangkaian Upacara Cembengan tersebut juga digelar berbagai jenis kesenian. Ada pergelaran wayang kulit, festival band, pertunjukan ketoprak, pentas musik, dan pasar malam.
LOKASI 

Upacara ini di laksanakan di kompleks Pabrik Gula Madukismo yang berada di Desa Padokan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat disini.
dari berbagai sumber

Selasa, 27 September 2011

Kaligrafi Aksara Jawa, Seni Yang Mulai Tergerus Zaman

Kaligrafi, siapapun yang mendengarnya pasti akan terbayang sebuah rangkaian huruf/aksara Arab yang di gambar dalam sebuah bidang dan dibuat dengan sedemikian rupa hingga menjadi suatu karya yang indah. Eiittsss... Namun tunggu dulu, yang perlu di garis bawahi disini adalah, apakah seni kaligrafi itu selalu aksara/huruf Arab? Ternyata tidak!! Di Indonesia sendiri terdapat juga kaligrafi namun dengan aksara kebudayaan asli negara Indonesia, khususnya kebudayaan Jawa.

Yupz, di Jawa sendiri terdapat seni kaligrafi namun menggunakan aksara Jawa. Namun kini, saya rasa seni kaligrafi aksara Jawa itu sendiri perlahan-lahan mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Padahal seni kaligrafi Jawa sendiri tidak kalah bagusnya dengan seni kaligrafi yang lainnya. Entah mengapa seni itu perlahan-lahan hilang. Padahal di sekolah-sekolah, khususnya di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta sendiri para siswanya diberi pelajaran muatan lokal yang juga mengajarkan aksara Jawa. Disinilah yang menjadi pertanyaan saya, entah ini para pengajar yang kurang kreatif ataukah kurangnya minat para murid? saya juga kurang tahu.

Alangkah baiknya jika kita yang anak bangsa negara ini melestarikan apa yang telah di wariskan oleh nenek moyang kita. Bukankah Bung Karno sang presiden pertama kita sendiri telah membuat wasiat kepada kita, kepada penerus bangsa Indonesia? Beliau berpesan dalam setiap pidatonya "Jangan sekali-kali melupakan sejarah!!!". Jangan sampai kita hanya bisa marah-marah ketika kekayaan kita yang berlimpah ini terlanjur di klaim satu persatu oleh bangsa lain. Coba resapilah inti dari pepatah " Mencegah lebih baik daripada mengobati".

Pesan yang ingin saya sampaikan disini adalah "Lebih baik kita melestarikan dan mempatenkan kekayaan bangsa kita sendiri daripada kita harus marah-marah ketika kekayaan bangsa kita itu di ambil oleh bangsa lain".





sama indahnya dengan Kaligrafi Arab kan?
sederhana namun karya bangsa sendiri

kalau yang ini hasil karya saya sendiri, gak jelek-jelek amat kan?

Like juga fanpage Kaligrafi Jawa kami di facebook.